Selasa, 03 Juni 2008

PERAN PERGURUAN TINGGI FARMASI DALAM PENGEMBANGAN INDUSTRI KECIL OBAT TRADISIONAL UNTUK PENGENTASAN KEMISKINAN

PERAN PERGURUAN TINGGI FARMASI DALAM PENGEMBANGAN INDUSTRI KECIL OBAT TRADISIONAL UNTUK PENGENTASAN KEMISKINAN[*]

Oleh :

Hendri Wasito, S. Farm., Apt.

e- mail : hendri.apt@gmail.com

Abstrak

Penggunaan obat tradisional dan keberadaan Industri Kecil Obat Tradisional (IKOT) di Indonesia berkembang cukup pesat. Perkembangan yang cukup pesat ini perlu didukung oleh perguruan tinggi farmasi dalam menjalankan Tri Darma Perguruan Tinggi untuk mengembangkan IKOT melalui kegiatan pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat agar IKOT memiliki daya saing dengan industri yang lebih besar sehingga IKOT dapat menjadi salah satu solusi bagi pengentasan kemiskinan di Indonesia. Kegiatan pendidikan dapat dilakukan dengan pengembangan kurikulum yang menunjang dalam pengembangan obat tradisional serta penanaman nilai-nilai kemandirian dan kepedulian kapada masyarakat serta menjembatani ketimpangan pendidikan tenaga kerja di Indonesia melalui pendidikan kepada masyarakat luas. Penelitian terhadap obat tradisional perlu ditingkatkan agar dapat digunakan dalam pengembangan IKOT serta kegiatan pembinaan berupa sosialisasi dan penerapan CPOTB serta pendampingan yang berkelanjutan terhadap IKOT.

Kata Kunci : Perguruan Tinggi, Farmasi, IKOT, Kemiskinan.

Pendahuluan

Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang cukup besar dan dikenal sebagai salah satu dari ketujuh negara yang memiliki keanekaragaman hayati yang menakjubkan serta tercatat sebagai negara dengan kekayaan hayati terbesar kedua di dunia setelah negara Brazil. Dalam sebuah sumber www.bisnis farmasi.wordpress.com (2007) mengemukakan bahwa Indonesia memiliki lebih dari 9.606 spesies tanaman yang memiliki khasiat sebagi obat dan dari jumlah tersebut, baru sekitar 3 – 4 % yang telah dibudidayakan dan dimanfaatkan secara komersial. Pemanfaatan bahan baku obat tradisional oleh masyarakat mencapai kurang lebih 1000 jenis, dimana 74 % diantaranya merupakan tanaman liar yang hidup di hutan.

Keanekaragaman hayati akan tanaman obat yang dimiliki oleh Indonesia merupakan sumber daya yang cukup potensial untuk dimanfaatkan dan dikembangkan sebagai bahan baku obat. Penggunaan obat di masyarakat memiliki kecendrungan untuk kembali ke alam dengan memanfaatkan berbagai tanaman obat, karena obat sintesis dirasakan terlalu mahal dengan efek samping yang cukup besar sehingga konsumsi obat tradisional di Indonesia cendrung semakin meningkat. Peningkatan konsumsi ini menurut Yuliani (2001) dapat dilihat dari semakin meningkatnya pemakaian obat tradisional dan perkembangan industri obat tradisional yang terus berkembang dari tahun ketahun.

Pada tahun 1997 jumlah industri obat tradisional di Indonesia berjumlah 449 buah yang terdiri dari 429 buah Industri Kecil Obat Tradisional (IKOT) dan 20 buah Industri Obat Tradisional (IOT). Pada tahun 1999 jumlah industri obat tradisional di Indonesia terus meningkat menjadi 910 buah yang terdiri dari 833 buah IKOT dan 87 IOT, peningkatan ini cendrung meningkat dari tahun ke tahun menurut sumber dalam Pasar Biofarmaka dalam www.bisnisfarmasi.wordpress.com (2007).

Semakin meningkatnya jumlah industri obat tradisional di Indonesia menunjukkan potensi pasar dalam negeri di Indonesia masih terbuka lebar, hal ini diperkuat dengan adanya kebiasaan masyarakat Indonesia dalam mengkonsumsi obat tradisional . menurut Handayani dan Suharmiati (2002) bahwa survey prilaku konsumen yang dilakukan di Indonesia menyatakan 61,3 % responden memiliki kebiasaan meminum obat tradisional yang merupakan tradisi masyarakat yang berkembang di masyarakat secara turun-temurun, ini merupakan potensi yang cukup besar dalam pengembangan pasar dalam negeri dari produk obat tradisional .

Industri jamu atau industri farmasi yang ada di Indonesia berlomba-lomba dalam memproduksi obat tradisional secara modern dengan menggunakan mesin-mesin modern dalam proses produksinya. Di sisi yang lain, masih banyak terdapat industri rumah tangga seperti IKOT yang memproduksi obat tradisional dalam jumlah terbatas dan dilakukan secara sederhana dengan menerapkan ramuan-ramuan kuno yang bermanfaat bagi kesehatan sehingga banyak IKOT yang kalah bersaing dengan industri farmasi yang lebih besar dalam produksi obat tradisional. Oleh karena itu diperlukan peran semua pihak dalam pengembangan IKOT tersebut.

IKOT sebagai salah satu pelaku bisnis ekonomi mikro memiliki peran yang penting dalam pembangunan di Indonesia. Dengan pengembangan IKOT diharapkan dapat mengatasi permasalahan kemiskinan yang saat ini masih dialami oleh Indonesia, tentunya dengan mengembangkan IKOT yang memiliki daya saing yang tinggi sehingga tidak tergeser oleh industri farmasi yang lebih besar. Badan Pusat Statistik (2006) mengemukakan bahwa jumlah penduduk miskin di Indonesia yakni penduduk yang berada dibawah garis kemiskinan pada bulan Maret 2006 sebesar 39,05 juta (17,75 %). Dibandingkan dengan penduduk miskin pada Februari 2005 yang berjumlah 35,10 juta (15,97 %), berarti jumlah penduduk miskin di Indonesia meningkat sebesar 3,95 juta dengan besarnya nilai rupiah pengeluaran per kapita setiap bulan untuk memenuhi kebutuhan dasar minimum makanan dan non makanan yang dibutuhkan oleh individu untuk tetep berada pada kehidupan yang layak pada tahun 2006 sebesar Rp 151.997 /kapita/bulan.

Salah satu pihak yang berperan dalam pengembangan IKOT adalah Perguruan Tinggi Farmasi. Perguruan tinggi farmasi yang merupakan lembaga formal tempat berkembangnya ilmu kefarmasian termasuk didalamnya mengenai obat tradisional memiliki peran penting dalam pengembangan IKOT sebagai bagian dari pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat yang merupakan salah satu komponen Tri Darma Perguruan Tinggi, sehingga diharapkan dapat memberikan perannya dalam mengembangkan industri obat tradisional. Dalam hal ini perlu digali dan dikembangkan peran yang dapat dilakukan oleh perguruan tinggi farmasi dalam pengembangan Industri Kecil Obat Tradisional (IKOT) yang memiliki daya saing dengan industri farmasi yang lebih besar sehingga dapat mengatasi masalah pengentasan kemiskinan.

Pembahasan

Obat tradisional sesuai dengan Badan POM (2005) merupakan bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian atau galenik, atau campuran dari bahan tersebut, yang secara turun temurun telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman. Menurut Wardoyo (2005) obat tradisional telah lama dikenal dan digunaan oleh semua lapisan masyarakat untuk tujuan pengobatan maupun perawatan kesehatan. Perkembangan obat tradisional dimulai dari ramu-ramuan tradisional yang berkembang di tengah masyarakat, yang kemudian berkembang menjadi suatu ramuan yang diyakini memiliki khasiat tertentu bagi tubuh manusia.

Dalam rangka pengembangan di bidang kesehatan yang sejalan dengan perkembangan ekonomi, sosial, budaya, serta ilmu dan teknologi, Wardoyo (2005) mengemukakan bahwa diperlukan penyediaan obat yang aman, benar khasiatnya, serta mempunyai mutu sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan yang dapat tersebar secara luas dan terjangkau oleh masyarakat dalam jenis maupun jumlah yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat untuk meningkatkan kualitas hidup dan kesehatan.

Dari tahun ke tahun di Indonesia terjadi peningkatan industri obat tradisional, menurut data dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) sampai tahun 2002 terdapat 1.012 industri obat tradisional yang memiliki izin usaha industri yang terdiri dari 105 industri berskala besar dan 907 industri berskala kecil seperti Industri Kecil Obat Tradisional (IKOT).

Berdasarkan peraturan Departemen Kesehatan RI, industri obat tradisional dapat dikelompokkan menjadi industri kecil dan industri besar berdasarkan modal yang harus mereka miliki. Industri Kecil Obat Tradisional (IKOT) adalah industri obat tradisional dengan total aset tidak lebih dari Rp. 600.000.000,- (enam ratus juta rupiah) , tidak termasuk harga tanah dan bangunan. IKOT juga wajib memenuhi persyaratan antara lain dilakukan oleh perorangan warga negara Indonesia atau badan hukum berbentuk Perseroan Terbatas atau Koperasi serta harus memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak. Selain itu juga IKOT wajib mengikuti Pedoman Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik (CPOTB) yang dinyatakan oleh petugas yang berwenang melalui pemeriksaan.

Dalam upaya peningkatan pemanfaatan bahan alam Indonesia yang terjamin keamanannya, Badan POM bekerja sama dengan beberapa perguruan tinggi sedang meneliti 9 tanaman obat unggulan nasional sampai ke uji klinis. Tanaman tersebut adalah salam, sambiloto, kunyit, jahe merah, jati belanda, temulawak, jambu biji, cabe Jawa dan mengkudu (Sukandar, 2004).

Dengan jumlah tanaman di Indonesia yang berlimpah dan baru 180 tanaman yang digunakan sebagai bahan obat tradisional oleh industri maka peluang bagi profesi kefarmasian untuk meningkatkan peran sediaan obat tradisional atau herbal dalam pembangunan kesehatan masih terbuka lebar. Menurut Sukandar (2004) standardisasi bahan baku dan obat jadi, pembuktian efek farmakologi dan informasi tingkat keamanan obat tradisional atau herbal merupakan tantangan bagi farmasis agar obat tradisional atau herbal semakin dapat diterima oleh masyarakat luas. Selain itu juga BPS (2007) mencatat peningkatan produksi tanaman obat-obatan dari tahun-ketahun terus mengalami.

Tabel 1. Produksi Tanaman Obat-obatan di Indonesia Tahun 2003 – 2005

Jenis Tanaman

Produksi (ton)

2003

2004

2005

Jahe

125.386

104.789

125.827

Lengkuas

24.588

24.299

36.293

Kencur

19.527

22.609

35.478

Kunyit

30.707

40.467

82.107

Lempuyang

4.684

6.025

8.897

Temulawak

11.762

16.667

22.582

Temuireng

4.490

6.174

7.725

Kejibeling

771

700

1.348

Dringo

495

257

418

Kapulaga

3.563

4.218

7.179

Mengkudu

1.910

3.509

9.821

Sambiloto

231

600

2.151

Temukunci

655

1.438

2.563

Sumber : Badan Pusat Statistik, 2007

Tujuan pendidikan di tingkat perguruan tinggi ialah menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik dan atau professional yang dapat menerapkan, mengembangkan dan atau menciptakan ilmu pengetahuan, teknologi serta kesenian. Selain itu juga mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi atau kesenian tersebut dan mengupayakan penggunaannya untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat yang lebih baik, Lubis (2004). Perguruan tinggi farmasi sebagai institusi yang memiliki kaitan yang erat dengan pengembangan obat tradisional seharusnya mengambil peran dalam pengembangan IKOT melalui perannya yang tertuang dalam tri darma perguruan tinggi yakni selain melakukan kegiatan pendidikan pengajaran juga melakukan kegiatan penelitian serta pengabdian kepada masyarakat.

Pengabdian masyarakat yang pada hakikatnya membantu masyarakat agar masyarakat mau dan mampu memenuhi kebutuhan sendiri harus dilandasi dengan kepercayaan, kemampuan dan kekuatan masyarakat itu sendiri. Demikian pula dalam membina IKOT di masyarakat sehingga diharapkan IKOT sebagai usaha mikro dapat lebih berkembang dengan kemandirian kekuatannya sehingga IKOT dapat berfungsi sebagai salah satu solusi dalam mengatasi kemiskinan di masyarakat.

Jumlah penduduk Indonesia menurut BPS (2007) pada tahun 2006 mencapai 222.192.000 jiwa dan pada tahun 2010 dengan laju pertumbuhan penduduk 1,27 diperkirakan akan mencapai 233.477.000 jiwa dan jumlah penduduk miskin pada tahun 2006 mencapai 39.100.000 jiwa yang sebagian besar berada di desa dengan jumlah penduduk miskin 24.800.000, adapun jumlah angkatan kerja yang merupakan penduduk usia 15 tahun ke atas yang bekerja atau sementara tidak bekerja dan yang sedang mencari kerja di Indonesia pada tahun 2006 mencapai 106.390.000 jiwa. Dengan pembinan masyarakat melalui usaha obat tradisional (IKOT) diharapkan dapat mengurangi jumlah kemiskinan di masyarakat melalui pembukaan lapangan kerja baru yang lebih luas untuk mengurangi jumlah angka pengangguran serta pemberdayaan sumber daya bahan baku yang banyak dimiliki oleh Indonesia agar lebih ekonomis dan berdaya guna dalam meningkatkan pendapatan masyarakat.

Tabel 2. Batas Miskin dan Jumlah Penduduk Miskin di Indonesia Tahun 2001– 2006

Tahun

Batas Miskin

(Rupiah/Kapita/Bulan)

Jumlah Penduduk Miskin

(juta jiwa)

Kota

Desa

Kota

Desa

2001

100.011

80.382

8,6

29,3

2002

130.499

96.512

13,3

25,1

2003

138.803

105.888

12,2

25,1

2004

143.455

108.725

11,3

24,8

2005

150.799

117.259

12,4

22,7

2006

175.324

131.256

14,3

24,8

Sumber : Badan Pusat Statistik, 2007

Tabel 3. Penduduk 15 Tahun ke Atas Menurut Jenis Kegiatan di Indonesia

Tahun 2005-2006 (dalam juta jiwa)

Kegiatan Utama

Feb. 2005

Nov. 2005

Feb. 2006

Agust. 2006

Penduduk usia 15 tahun ke atas

155,56

158,49

159,25

160,81

Angkatan kerja

105,80

105,96

106,29

106,39

Bekerja

94,95

93,96

95,18

96,46

Tidak bekerja

10,85

11,90

11,10

10,92

Bukan angkatan kerja

49,75

52,63

52,96

54,42

Tingkat partisipasi angkatan kerja

68,02

66,79

66,74

66,16

Tingkat pengangguran

10,26

11,24

10,45

10,29

Setengah Pengangguran

29,64

28,90

29,92

29,10

Sumber : Badan Pusat statistik, 2007

Menurut Aspiranti (2006) selama tahun 2000 – 2003 peran usaha mikro, kecil dan menengah dalam penciptaan barang dan jasa terjadi peningkatan dari 54,51 % pada tahun 2000 menjadi 56,72 % pada tahun 2003. Usaha mikro, kecil dan menengah menyediakan 43,8 % kebutuhan barang dan jasa nasional, sementara usaha besar 42,1 % dan impor 14,1 %. Selama priode ini juga, usaha mikro kecil dan menengah telah mampu memberikan lapangan kerja baru sebanyak 1,2 juta orang tenaga kerja di Indonesia, dan masih akan menjadi tumpuan utama penyerapan tenaga kerja pada masa mendatang.

Masyarakat miskin memiliki potensi sekaligus hak untuk menjalani hidup yang lebih layak, tantangan dari permasalahan kemiskinan ini menurut Yunus (2007) adalah dengan membuat model-model bisnis inovatif dan menerapkannya untuk menghasilkan usaha yang dikehendaki dengan biaya yang efektif dan efisien. Bisnis inovatif ini memiliki peranan penting karena menangani keperluan yang sangat vital dari masyarakat, dan hal ini dapat mengubah dan menolong masyarakat dari kemiskinan dengan membangkitkan mesin ekonomi kecil dari masyarakat kelas bawah yang terpinggirkan sehingga mempercepat dalam proses pengentasan kemiskinan. IKOT sebagai bagian dari usaha mikro, kecil dan menengah yang inovatif diharapkan mampu mengatasi masalah kemiskinan dengan mengembangkan IKOT yang lebih baik yang mampu berdaya saing dengan industri farmasi yang lebih besar.

Adapun peran yang dapat dilakukan oleh perguruan tinggi farmasi dalam pengembangan IKOT antara lain :

  1. Pendidikan

Pendidikan disini adalah dalam rangka meneruskan atau transfer ilmu pengetahuan dalam rangka membentuk manusia modern termasuk mengenai perubahan nilai dan sikap sehingga dihasilkan manusia pembangunan yang memiliki ciri-ciri antara lain mudah menerima dan menyesuaikan diri pada perubahan, berani dalam menyatakan pendapatnya, memiliki rasa tanggung jawab dan loyalitas lebih berorientasi kepada masa depan.

Perguruan tinggi farmasi melalui kurikulum yang dimilikinya diharapkan dapat menghasilkan tenaga-tenaga dalam bidang kefarmasian khususnya mengenai obat tradisional yang mengerti dan mampu menyelesaikan persoalan masyarakat mengenai pengembangan IKOT seperti dengan ilmu farmakognosi dan farmasi botani diharapkan memiliki bekal mengenai berbagai tanaman obat yang dapat dikembangkan dalam skala industri, dengan belkal ilmu analisis obat tradisional dan bahan alam diharapkan memiliki kemampuan dalam menecahkan permasalahan konsistensi mutu obat tradisional yang banyak dialami oleh industri obat tradisional skala kecil, dengan bekal ilmu teknologi sediaan farmasi diharapkan mampu menghasilkan produk obat tradisional yang lebih inovatif, dengan bekal ilmu mikrobiologi farmasi diharapkan mampu mengatasi masalah kontaminasi dan pencemaran mikroba pada produk obat tradisional, serta dibekali dengan bidang ilmu lainnya yang menunjang dalam peningkatan kualitas produk obat tradisional.

Kemandirian dan kepedulian terhadap permasalahan yang dihadapi oleh IKOT juga perlu ditanamkan sehingga pendidikan kewirausahaan dan kepribadian serta ketrampilan hidup lainnya perlu dibekali dan dilatih dalam kegiatan pendidikan yang dilakukan oleh perguruan tinggi farmasi baik melalui kegiatan formal maupun informal seperti terjun langsung ke masyarakat dalam membina industri kecil obat tradisional.

Selain pendidikan kepada para peserta didik di perguruan tinggi, perguruan tinggi farmasi juga harus melakukan pendidikan kepada masyarakat yang lebih luas baik melalui media cetak, media elektronik maupun bentuk media lainnya sehingga informasi dan ilmu pengetahuan mengenai obat tradisional yang lebih maju tidak hanya berkembang di kampus saja melainkan dapat tersebar ke masyarakat yang lebih luas. Persentase penduduk Indonesia yang bekerja menurut tingkat pendidikan sebagian besar merupakan penduduk dengan tingkat pendidikan dasar, dan penduduk dengan tingkat pendidikan perguruan tinggi yang bekerja pada tahun 2006 hanya berjumlah 6,19 % sehingga perguruan tinggi farmasi melalui kegiatan pendidikan kepada masyarakat yang lebih luas dapat menjembatani kesenjangan ini.

Tabel 4. Persentase Penduduk Indonesia yang Bekerja Menurut Tingkat Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan di Tahun 2005-2006.

Tingkat Pendidikan

Feb. 2005

( % )

N9ov. 2005

( % )

Feb. 2006

( % )

Agust. 2006

( % )

Tidak tamat SD

15,93

17,07

17,57

17,90

SD

37,30

35,34

35,06

36,56

SLTP

19,55

20,35

20,01

19,25

SLTA

15,50

15,71

15,79

20,06

Perguruan Tinggi

5,42

5,53

5,57

6,19

Sumber : Badan Pusat Statistik (2007)

  1. Penelitian

Penelitian merupakan kegiatan dalam upaya menghasilkan pengetahuan empirik, teori, konsep, metodelogi, model, atau informasi baru yang memperkaya ilmu pengetahuan dan teknologi, Lubis (2004). Kegiatan penelitian memiliki peranan penting dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Penelitian tidak berdiri sendiri semata-mata untuk hal yang langsung digunakan, tetapi harus dipertimbangkan jangkauannya untuk masa yang akan datang. Penelitian perguruan tinggi farmasi yang berkaitan dengan pengembangan obat tradisional perlu terus dilakuakan sehingga hasil-hasil penelitian tersebut dapat dipergunakan oleh IKOT dalam mengembangkan usahanya.

Kegiatan yang berkaitan dengan upaya pengembangan tanaman obat yang dapat dilakukan oleh perguruan tinggi farmasi menurut Sjamsuhidayat (1996) meliputi penelitian kandungan kimia tanaman yang berkhasiat sebagai obat, penelitian analisis kimia kandungan bahan aktif tanaman, penelitian farmakologi dan toksikologi, pembuatan ekstrak tanaman skala pilot plan, standardisasi ekstrak bahan alam, formulasi ekstrak ke bentuk sediaan obat, penelitian toksisitas terhadap formulasi, dan penelitian analitis produk formulasi.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh perguruan tinggi farmasi telah menghasilkan kesimpulan-kesimpulan tentang banyak efek farmakologi tanaman obat. Tanaman yang digunakan oleh masyarakat tradisional diidentifikasi secara ilmiah dan penggunaannya dicatat dan ditelaah secara cermat. Berdasarkan kesimpulan tersebut, secara bertahap dan terus-menerus dilakukan analisa laboratorium dan penelitian percobaan. Sebagian besar dari penelitian percobaan itu dilakukan pada hewan coba sebagai uji pra klinik, tetapi beberapa penelitian juga dilakukan pada manusia sebagai uji klinis.

Seperti yang diduga sebelumnya, sebagian besar hasil penelitian ternyata membenarkan sifat penyembuhan yang sudah diakui dalam pengobatan tradisional. Ribuan tanaman secara tradisional telah digunakan sebagai tanaman obat dan masyarakat mulai menyadari bahwa terdapat beberapa kelebihan dari tanaman obat seperti efek samping yang relatif lebih kecil dibandingkan obat sintetik, harga yang lebih terjangkau, serta ketersediaan bahan baku yang lebih mudah ditemukan jika dibandingkan dengan obat sintetik.

Tabel 5. Beberapa Jenis Tanaman Obat yang Telah Diteliti

Jenis Tanaman

Bagian Tanaman

Khasiat

Temulawak (Curcuma canthorriza)

Umbi

Hepatitis, artritis

Kunyit (Curcuma domestica)

Umbi

Hepatitis, artritis, antiseptik

Bawang putih (Allium sativum)

Umbi

Kandidiasis, hiperlipidemia

Jati Blanda (Guazuma ulmifolia)

Daun

Hiperlipidemia

Handeuleum/daun unggu (Gratophyllum pictum)

Daun

Hemoroid

Tempuyung (Sonchus arvensis)

Daun

Nefrolitiasi, diuretik

Kejibeling (Strobilanthes crispus)

Daun

Nefrolitiasi, diuretik

Labu merah (Cucurbita moschata)

Biji

Teaniasis

Katuk (Sauropus androgynus)

Daun

Meningkatkan produksi ASI

Kumis kucing (Orthosiphon stamineus)

Daun

Diuretik

Seledri (Apium graveolens)

Seluruh daun

Hipertensi

Pare (Momordica charantia)

Buah, biji

Diabetes melitus

Jambu biji/klutuk (Pssidium guajava)

Daun

Diare

Sirih (Piper betle)

Daun

Antiseptik

Saga telik (Abrus precatorus)

Daun

Stomatitis aftosa

Sembung (Blumea balsmaifera)

Daun

Analgesik, antipiretik

Benalu teh (Loranthus spec)

Batang

Antikanker

Pepaya (Carica papaya)

Getah, daun, biji

Sumber papain, antimalaria, kontrasepsi pria

Bratawali (Tinospora rumphii)

Batang

Antimalaria, diabetes melitus

Pegagan (Centella asiatica)

Daun

Diuretik, antiseptik, antikelod, hipertensi

Legundi (Legundi trifolia)

Daun

Antiseptik

Sumber: Santoso (1993).

Obat tradisional terdiri dari berbagai jenis tanaman dan bagian tanaman. Obat tradisional yang terbukti berkhasiat perlu dimanfaatkan dan ditingkatkan kualitasnya. Untuk dapat membuktikan khasiatnya, sampai saat ini telah dilakukan penelitian walaupun masih bersifat pendahuluan dan masih sangat sedikit penelitian yang sampai pada fase penelitian klinik. Penelitian yang telah dilakukan terhadap tanaman obat sangat membantu dalam pemilihan bahan baku obat bagi IKOT serta dalam pengembangan teknologi proses pembuatannya yang lebih efisien dan terjamin kualitasnya.

Pengalaman empiris ditunjang dengan penelitian yang lebih mendalam terhadap obat tradisional semakin memberikan keyakinan akan khasiat dan keamanan obat tradisional. Sehingga IKOT dapat terbantu dalam pengembangan usahanya serta dapat bersaing dengan industri farmasi yang lebih besar melalui penelitian yang dilakukan oleh perguruan tinggi farmasi, dimana kegiatan penelitian dan pengembangan ini biasanya jarang dilakukan oleh IKOT karena memerlukan dana dan teknologi yang tinggi yang tidak dimiliki oleh IKOT jika dibandingkan industri farmasi yang lebih besar.

  1. Pengabdian Masyarakat

Pengabdian kepada masyarakat merupakan serangkaian kegiatan dalam rangka kontribusi Perguruan Tinggi terhadap masyarakat yang bersifat kongkrit dan dapat langsung dirasakan masyarakat. Kegiatan ini dilaksanakan secara individu atau kelompok oleh anggota civitas akademika perguruan tinggi baik diminta oleh masyarakat maupun atas inisiatif sendiri yang bersifat non profit atau tidak mencari keuntungan. Dengan adanya pengabdian kepada masyarakat diharapkan ada umpan balik kepada perguruan tinggi yang akan dipergunakan sebagai pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi lebih lanjut.

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dapat dilakukan oleh perguruan tinggi farmasi meliputi kegiatan pembinaan dan pendampingan terhadap IKOT. Pembinaan yang dapat dilakukan berupa sosialisasi Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik (CPOTB) dan penerapan CPOTB dalam proses produksi obat tradisional. Sosialisasi dapat melalui kegiatan seminar, pelatihan-pelatihan bagi masyarakat dan pengusaha IKOT, pembuatan buku panduan serta sosialisasi melalui media cetak seperti pembinaan kolom konsultasi bagi para pengusaha IKOT di media massa dan media elektronik melalui siaran program pedesaan dan progaram-progaram lainnya.

CPOTB bagi industri obat tradisional meliputi seluruh aspek yang menyangkut pembuatan obat tradisional mulai dari sistem managemen mutu, personalia, bangunan, peralatan, sanitasi dan higine, penyiapan bahan baku, pengolahan dan pengemasan, pengawasan mutu, inspeksi diri, dokumentasi, hingga penanganan terhadap hasil pengamatan produk jadidalam peredarannya. CPOTB menurut Badan POM (2005) bertujuan untuk menjamin agar produk yang dihasilkan senantiasa memenuhi persyaratan mutu yang telah ditentukan sesuai dengan tujuan penggunaannya, meningkatkan nilai tambah dan daya saing produk obat tradisional, serta dipahaminya CPOTB oleh para pelaku usaha industri di bidang obat tradisional termasuk IKOT bermanfaat bagi perkembangan industri di bidang obat tradisional.

Penerapan CPOTB merupakan persyaratan kelayakan dasar untuk menerapkan system jaminan mutu yang diakui dunia internasional. Untuk itu sistem mutu seharusnya dibangun, dimantapkan dan diterapkan sehingga kebijakan yang ditetapkan dan tujuan yang diinginkan dapat tercapai, Badan POM (2005). Dengan demikian penerapan CPOTB merupakan nilai tambah bagi produk obat tradisional Indonesia agar dapat bersaing dengan produk sejenis dari negara lain baik di pasar dalam negeri maupun internasional.

Selain sosialisasi dan penerapan CPOTB dalam IKOT, perguruan tinggi farmasi juga dapat melakukan pendampingan yang berkelanjutan untuk memecahkan segala permasalahan yang dialami oleh IKOT seperti permasalahan dalam pengembangan produk, formulasi produk obat tradisional, budidaya tanaman obat dalam sekala menengah, penggunaaan teknologi yang lebih modern dalam memproduksi obat tradisional, efesiensi proses produksi dan permasalahan lainnya yang di hadapi oleh IKOT dan usaha promosi obat tradisional kepada masyarakat yang lebih luas dan mendorong pengembangan industri IKOT yang lebih berdaya saing. Kegiatan pendampingan dapat dilakukan melalui pembentukan IKOT binaan, penerjunan tenaga dosen dan mahasiswa farmasi dalam program pendampingan IKOT serta bentuk pembinaan dan kerjasama antara IKOT dan perguruan tinggi farmasi.

Penutup

Perguruan Tinggi Farmasi dalam penerapan Tri Darma Perguruan Tinggi memiliki peran penting dalam pengembangan Industri Kecil Obat Tradisional (IKOT) melalui kegiatan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat agar IKOT memiliki daya saing dengan industri yang lebih besar sehingga dapat menjadi salah satu solusi bagi pengentasan kemiskinan di Indonesia melalui pembukaan lapangan kerja yang lebih luas serta pemanfaatan bahan alam yang dimiliki Indonesia yang lebih ekonomis.

Pembangunan jaringan dan kerjasama dengan pihak yang terkait perlu dilakukan, baik pemerintah maupun swasta dalam pengembangan IKOT serta perlu juga dilakukan penelitian lebih lanjut oleh Perguruan Tinggi Farmasi maupun lembaga penelitian lainnya dalam pengembangan obat tradisional di Indonesia sehingga dapat dimanfaatkan oleh IKOT dalam mengembangkan usahanya.

Daftar Pustaka

Aspiranti, T., 2006, Peran Industri Mikro, Kecil dan Menengah di Indonesia, Performa Vol. III No. 1 Maret 2006, Bandung.

Badan Pusat Statistik, 2006, Berita Resmi Statistik No. 47 / IX / 1 September 2006.

Badan Pusat Statistik, 2007, Indikator Utama Sosial-Ekonomi Indonesia, BPS, Jakarta.

Lubis, C. P., 2004, Implementasi Tri Darma Perguruan Tinggi dalam Mendukung Disiplin Nasional, e-USU Repository, Medan.

POM, 1990, Peraturan Mentri Kesehatan RI No. 246/Menkes/Per/V/1990 tentang Izin Usaha Industri Obat Tradisional dan Pendaftaran Obat Tradisional.

POM, 2005, Lampiran Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan RI No. H.K.00.05.4.1380 tentang Pedoman cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik.

Santoso, S.O, 1993, Perkembangan Obat Tradisional dan Ilmu Kedokteran di Indonesia dan Upaya Pengembangannya sebagai Obat Alternatif, Pidato Pengukuhan pada Upacara Penerima Jabatan sebagai Guru Besar dan Farmakologi pada Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta 4 September 1993.

Sukandar, E. Y., 2004, Tren dan Paradigma Dunia Farmasi : Industri-Klinik-Teknologi Kesehatan, Orasi Ilmiah Dies Natalis ITB ke 45, ITB, Bandung.

Sjamsuhidayat, S.S., 1996, Keterpaduan Pihak-pihak Terkait Dalam Pengembangan Agro Industri Tanaman Obat, Prosiding Forum Konsultasi Strategi dan Pengembangan Agro Industri Tanaman Obat, Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Bogor.

Yuliani, S., 2001, Prospek Pengembangan Obat Tradisional Menjadi Obat Fitofarmaka, Jurnal Litbang Pertanian, Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Bogor.

Yunus, M., 2007, Bank Kaum Miskin, Marjin Kiri, Serpong-Tangrang.

www. bi.go.id, 2007, Industri Jamu Tradisional : Pola Pembiayaan Syariah, Jakarta.

www.bisnisfarmasi.wordpress.com, 2007, Pasar Biofarmaka

*] Pernah disampaikan dalam Lomba Karya Tulis Ilmiah Dosen UNISBA 2007 sebagai juara pertama.

Tidak ada komentar: